INDONESIA.

indonesia

Sekali nama itu didengungkan di telinga kita, dalam benak kita pasti langsung tergambar sebuah negara kepulauan yang kaya. Kaya akan segalanya. Tak hanya kaya sumber daya, Indonesia juga punya beraneka ragam kekayaan kultural yang khas dan unik di setiap daerah pada pulau-pulau yang menyusun NKRI.

Mulai dari bahasa, musik, makanan, bentuk rumah, hingga tari-tarian, di setiap daerah berbeda-beda. Di Jawa Timur, bahasa Krama Inggil digunakan sebagai sehari-hari. Gamelan, musik pengiring wayang pun amat tersohor di sana. Sedangkan untuk tarian, Reog Ponorogo-lah yang paling ternama. Tak hanya terkenal di daerah asalnya saja, Reog juga termasyhur di level nasional. Saking termasyhurnya, sampai-sampai negara tetangga kita, ingin mengklaim Reog sebagai bagian budaya mereka.

reog

Lain di Jawa, lain pula di Sumatera. Aceh, Padang, dan Palembang yang mewakili Sumatera, semuanya memiliki keunikan budaya masing-masing. Rencong, bahasa Minang, Empek-empek, merupakan segelintir contoh yang paling menonjol dari masing-masing daerah tersebut. Sampai di sini, kita hanya baru membahas dua cuplik kecil Indonesia. Di luar keduanya, Indonesia masih punya Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, Makassar, Papua, dan ratusan, atau bahkan mungkin ribuan pulau yang memiliki adat budaya sendiri.

Lihatlah, betapa kayanya Indonesia. Kendati pluralitas secara alami ada di sela-sela masyarakatnya, hal ini tidak malah kemudian menggiring mereka ke jurang disparitas yang disintegratif. Meski, tidak dapat dipungkiri, pada beberapa kesempatan, pluralitas juga dapat memicu ketegangan bagi beberapa pihak. Walaupun demikian, Indonesia ternyata dapat terus bertahan. Semangat Bhineka Tunggal Ika agaknya telah mendarahdaging dalam diri bangsa Indonesia. Dan oleh karenanya, Indonesia masih tampak kokoh berdiri hingga sekarang.

Namun, seiring beralihnya zaman, tantangan yang musti dihadapi Indonesia semakin berat. Kini, seluruh dunia, tak terkecuali Indonesia, telah memasuki era yang disebut-sebut sebagai era globalisasi. Kata Malcolm Waters, sosiolog, globalisasi ialah “proses dimana kendala-kendala dan batasan-batasan geografis terhadap berbagai penyelenggaraan ekonomi, politik, sosial, dan budaya sedang berkurang, dan masyarakat menyadari hal tersebut….” Simpelnya, globalisasi itu merupakan suatu peristiwa tatkala batas negara-negara di dunia menjadi kabur, sehingga produk maupun nilai-nilai bisa masuk secara bebas dari satu negara ke negara lainnya.

Poin terakhir di atas perlu menjadi bahan kontemplasi kita bersama. Bayangkan, dengan semakin bebasnya nilai-nilai dari luar masuk ke Indonesia, lalu bagaimana nasib nilai-nilai asli Indonesia sendiri? Apakah akan sirna dibombardir nilai-nilai asing tersebut? Ditambah lagi, Indonesia tergolong negara Dunia Ketiga yang tak terlalu punya kekuatan di kancah internasional.

Beberapa kajian ilmiah menjawabnya, YA. Dhanny S. Sutopo, seorang antropolog UI, dalam tesis magisternya yang berjudul Turisifikasi Budaya dan Eksistensi Masyarakat: Studi Tentang Upaya Komuniti Bendega Mempertahankan Eksistensinya dalam Menghadapi Pariwisata di Danau Tamblingan – Bali (2003) memaparkan, dengan masuknya pariwisata ke daerah Danau Tamblingan, Bali, yang sejurus dengan bertambahnya turis asing dan datangnya budaya luar, maka masyarakat Bendega yang notabene merupakan masyarakat asli di situ, sedikit demi sedikit harus menyesuaikan diri dengan keadaan. Penyesuaian diri ini memakan korban, yang tak lain ialah kebudayaan asli mereka sendiri. Perlahan-lahan, masyarakat Bendega meninggalkan perahu kayu tradisional mereka, digantikan oleh kapal-kapal fiberglass dengan motor yang didatangkan dari luar untuk memuaskan kebutuhan turis.

Dalam tesis yang sama, diceritakan pula bagaimana masyarakat Bali, khususnya dari kalangan penari, memodifikasi beberapa gerakan orisinal tarian-tarian daerah mereka yang menjemukan dan kurang komersil, menjadi yang lebih menarik serta layak tonton, atas permintaan para pebisnis pariwisata di sana.

Sungguh hal yang patut disayangkan. Kebudayaan yang seharusnya kita jaga dan lestarikan, kini malah tampak seperti komoditas yang bisa ‘dijual’. Agar ada yang tertarik ‘membeli’, komoditas ini harus sesuai dengan selera pasar. Contohnya, jika pasar menghendaki tarian yang tidak membosankan, maka kita harus mengubah gerakannya agar tidak menjemukan. Lalu, bila pasar meminta perahu fiberglass untuk mengarungi danau, maka kita harus tinggalkan perahu tradisional yang sudah turun-temurun dari nenek moyang kita. Kita dan kebudayaan kita telah tunduk pada kekuatan pasar. Padahal pasarnya sendiri banyak dikuasai asing ketimbang orang Indonesia asli. Semua ini bisa terjadi, dalam hemat saya yang juga diamini beberapa pengamat, karena nalar yang digunakan di era globalisasi ini ialah nalar bisnis, yang menuhankan keuntungan dengan mengesampingkan hal-hal yang lebih esensial. Otentitas budaya, misalnya.

Di samping itu, globalisasi juga memungkinkan adanya persebaran budaya, baik ke dalam maupun ke luar dengan bebas dan tidak terkontrol. Akibatnya, keaslian pemilik suatu kebudayaan pun menjadi kabur. Kaburnya orisinalitas pemilik budaya ini kemudian menjelma menjadi sebuah celah bagi bangsa lain untuk melakukan klaim atas kebudayaan tertentu. Inilah yang terjadi antara Indonesia dan Malaysia.

Mulai dari lagu Rasa Sayange, Batik, dan Reog dari Indonesia diklaim Malaysia. Bahkan yang terakhir, seperti yang dikabarkan detikcom, Tari Pendet yang khas dari Bali pun ikut-ikut diakui Malaysia. Sungguh miris menyaksikan satu demi satu kebudayaan kita dirampas oleh bangsa asing (yang dulunya mengaku serumpun) seperti yang terjadi kini.

berita tari pendet dari detikcom

Pertanyaannya sekarang, SUDAH SEJAUH MANA SIH, KITA, BANGSA INDONESIA, BERAKSI DAN PEDULI AKAN BUDAYA KITA?

Kenyataan di lapangan ternyata memberi jawaban yang tidak terlalu menggembirakan. Banyak pemuda negeri ini malah malu dan malas menggunakan batik. Dari pengalaman saya, meski di kampus sudah dicanangkan hari batik, namun masih ada saja teman-teman sekampus saya yang tidak mengenakannya. Alasannya pun bermacam-macam. Ada yang bilang gerah dan tidak nyaman dipakai ke kampus. Lalu ada pula yang beralasan takut dicemooh oleh teman lainnya (yang begini utamanya para wanita), dibilang tidak modis atau tidak nge-trend.

Dari hal pakaian yang menurut saya simpel saja, sudah susah bagi bangsa Indonesia untuk sekadar menggunakannya (lebih-lebih mencintainya?), apalagi ketika dihadapkan dengan hal yang lebih besar? Belajar tarian daerah, misalnya. Pasti susahnya minta ampun. Dan memang itulah yang terjadi.

Berdasarkan pengamatan saya, dari sebuah acara ujian kenaikan tingkat satu sanggar tari di FIB UI beberapa bulan lalu, jumlah anggota sanggar yang usianya di atas 15 tahun sudah sangat jarang. Saking jarangnya, sampai-sampai bisa dihitung dengan jari di satu telapak tangan. Itupun didominasi kaum hawa. Ini menunjukkan, kalangan muda (dengan bentang usia dari 15-35 tahun) Indonesia kurang (atau bahkan mungkin tidak) peduli lagi dengan kebudayaan mereka.

Pada kesempatan berbeda, saya melihat satu hal yang lebih mencengangkan. Minggu lalu (20/8), di satu kelas pada sebuah gedung di FIB UI, sedang berlangsung kelas tari. Tarian yang dipelajari di dalamnya adalah tari-tarian tradisional Indonesia. Namun, pemandangan di sana terasa begitu janggal.

tari1

[Kana dan Nao, dua-duanya berasal dari Jepang sedang belajar tari Kalimantan]

tari2

[Begitu pula dengan yang lainnya. Meski bukan asli dari Indonesia, mereka tetap serius latihan menari. Coba cari, yang mana orang Indonesianya?]

tari3

[Ini Kazu dan Abe, teman menari Perang dari Jepang. Mereka sedang menjalani studi BIPA (Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing) di FIB UI]

tari4

[Ki-Ka: Abe, Kazu, Kyoshii, ditambah saya (yang memotret) beraksi di sela-sela latihan menari]

Kendati tarian yang dipelajari adalah tarian tradisional Indonesia, namun lihat! Hanya segelintir saja orang Indonesia yang ikut. Apalagi kaum adamnya.

Kalau kita amati, di keseharian maupun dalam media, pemuda Indonesia lebih senang dan bangga jika mahir menari break dance atau modern dance dengan gerakan dan pakaian yang kebarat-baratan. Mereka akan dipandang wah dan dinilai lebih ketika mahir menarikan kedua tarian tersebut ketimbang bila mereka ketahuan jago menari remo, pendet, atau tari perang dengan Mandau seperti di atas.

Sungguh ironis memang. Bila kita ingat bagaimana para pemuda Indonesia mengutuki negara tetangga di berbagai media atas klaim kebudayaan olehnya, dengan kata-kata yang kurang mencerminkan ‘pribadi Indonesia’, dengan mereka yang tampak kurang bergairah melestarikan kebudayaannya sendiri.

Ini harus segera kita ubah!

Kalangan pemuda yang juga disebut-sebut sebagai agent of change, harus benar-benar melakukan perubahan untuk Indonesia. Tak harus memulainya dengan sesuatu yang besar dan muluk-muluk. Mulailah dengan melaksanakan hal kecil. Suka hati mengenakan batik ke kampus, menggunakan bahasa daerah dengan baik dan benar, beriringan dengan bahasa Indonesia, dan mulai menyukai tarian daerah ialah beberapa contohnya.

Saya, juga tidak mau hanya berkoar-koar mengingatkan saja, tanpa sadar diri. Mulai Kamis lalu (27/8), saya putuskan bergabung di kelas tari bersama tiga teman saya. Motivasi kami, selain untuk mengenal sahabat-sahabat asing dari Jepang atau Korea, di dalam hati kami yang paling dalam, juga tersimpan keinginan untuk melestarikan kebudayaan Indonesia.

Bisa disimpulkan, perubahan bisa terjadi ketika kita semua melakukan tindakan riil. Tindakan nyata! Bukan sekadar mengomel-ngomel atau mengutuki negara ini dan itu di forum-forum internet. Sebab omelan dan kutukan itu tak akan berbuah apa-apa, melainkan hanya menjadi uap pada akhirnya.

Mari, dengan momentum 17 Agustus ini, kita, para pemuda Indonesia, mulai membangun komitmen dengan diri kita sendiri untuk memulai perubahan. Kita mulai perubahan dengan tindakan nyata! Bukan lagi dengan bualan-bualan angin yang tak memberi efek apa-apa. Mari kita menjadi agent of change yang sesungguhnya bagi tumpah darah kita. Indonesia.

Pemuda Indonesia pasti BISA!

Seperti kata Eep Saefulloh Fatah (Majalah Gatra, 2008), kita semua pasti bisa menjadi penanda bagi sejarah Indonesia. Kitalah ikon perubahan besar Indonesia. Ya, kita!

PARA PEMUDA INDONESIA!!!


sumber gambar

yaradestani.deviantart.com

armediharahap.deviantart.com

koleksi pribadi

Prolog

Alkisah ada sebuah kampung di negeri virtual yang semakin padat penduduknya. Setiap hari, setiap jam, setiap menit, bahkan setiap detik, selalu saja bertambah penduduknya. Nama kampung itu ialah kampung blogdetik.

Kampung ini berada di kawasan detik.com, sebuah kawasan yang termasyhur dengan arus kabarnya yang mengalir terus, tidak pernah berhenti setiap detiknya. Penduduk di kampung blogdetik ini selain padat, juga ramah. Keramahan inilah yang menarik orang dari kampung lain untuk bermigrasi ke sana.

Konon kabarnya, para penghuni kampung blogdetik memiliki nenek moyang dari jagat nyata. Indonesia namanya. Orang Indonesia terkenal ramah dan sangat beradab. Selain itu, Indonesia juga sarat akan budaya. Karakteristik ini ternyata ditemukan pula pada penduduk kampung blogdetik. Ramah, beradab, dan sangat berbudaya.

indonesia

Agaknya, tiga karakteristik itu membuatku tertarik ikut bergabung dengan mereka, para penghuni blogdetik. Oleh karena itulah, aku putuskan, mulai hari ini, 26 Agustus 2009, aku menjadi salah satu warga blogdetik.

***

Ini hari pertamaku. Dan hal pertama yang wajib aku lakukan ialah menyapa para tetangga dan memperkenalkan diriku.

“Salam kenal, tetangga! :)”

Kenalkan, aku tetangga baru kalian. Namaku Gilang Reffi Hernanda. Kalau terlalu panjang, cukup panggil saja Gilang. Kini, aku berkuliah. Aku memilih jurusan Ilmu Komunikasi di Universitas Indonesia. Aku masih berusia 19 tahun dan aku LAJANG! (bagi yang berminat silahkan kontak aku, ha-ha-ha).

gilang


Cukup perkenalannya? Atau masih ada yang ingin ditanyakan? Kalau iya, hubungi saja aku di rumahku (baca: blog) ini. Aku akan beri nomor telepon atau handphone bagi orang-orang yang benar-benar ingin mengenalku. He-he-he.

“Sering-sering bertandang ke gubukku, ya, tetangga!”

Happy blogging with blogdetik!

Best Regards,

Gilang Reffi Hernanda

***

GILANG MENGUCAPKAN SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA RAMADHAN 1430 H